CINTA PERPUSTAKAAN di LINGKUNGAN SEKOLAH BAGAIMANA MENUMBUHKANNYA?



Oleh: Ninik Fa’idatush Khamidah
Mahasiswa D3 Perpustakaan UM
Mata Kuliah Penulisan Karya Ilmiah
Dosen Pemimbing Darmono
                                                                                         

Kebanyakan dari kita mungkin beranggapan bahwa perpustakaan adalah tempat menyimpan dan meminjam buku, baik untuk dibaca di tempat maupun dibawa pulang dengan menggunakan kartu anggota perpustakaan. Anggapan tersebut memang benar adanya, tetapi perpustakaan sekarang tidak selalu terdiri dari sekelompok buku, karena perpustakaan sekarang ini mampu menyediakan layanan audio-visual, film, slide mikrofilm dan sebagainya.
Perpustakaan dan pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan.
Perpustakaan berfungsi sebagai salah satu faktor yang mempercepat akselerasi transfer ilmu pengetahuan. Sedangkan pendidikan, merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran, atau dengan cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat (Muktamarudin, 2012). Manusia melakukan perbuatan karena dia merasa butuh. Manusia juga terpengaruh adanya motivasi. Seseorang  yang dimotivasi akan terjun dalam suatu aktivitas secara lebih giat dan lebih efisien dari pada tanpa dimotivasi. Selain itu motivasi juga dapat memberikan gambaran tentang kebutuhan yang harus dia miliki.
Oleh sebab itu manusia akan berduyun-duyun datang ke perpustakaan ketika merasa butuh. Tapi tidak semua orang mengetahui bahwa dia membutuhkan perpustakaan. Akibatnya perpustakaan sepi dari pengunjung. Buku-buku rapi tersusun dalam raknya tidak pernah diambil untuk dibaca. Selain itu perpustakaan banyak pengunjung ketika mendekati ujian. Dari beberapa pengunjung yang ada disana bukannya membaca buku tapi melepas lelahnya (tidur) karena teralu nyamannya suasana yang ada dalam ruangan perpustakaan. Hal ini menunjukkan tidak sesuainya dengan fungsi perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan. Basuki (2010:2.16) menyatakan  perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada pada lembaga formal di lingkungan pendidikan dasar dan menengah yang merupakan bagian integral dari kegiatan sekolah yang bersangkutan dan merupakan pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan seekolah yang bersangkutan. Dana (2012) menyatakan bahwa “perpustakaan sekolah adalah sebuah ruangan atau bagian sebuah gedung atau gedung itu sendiri yang dipergunakan untuk kegiatan penyimpanan dan peminjaman buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk pembaca dimana bahan-bahan publikasi itu tidak diperjual-belikan”. Cella (2012) mengemukakan bahwa “Perpustakaan sekolah secara umum adalah sebuah tempat yang menyediakan koleksi literatur yang berguna bagi pendidikan di sekolah. Keberadaannya pun menyatu dengan lingkungan sekolah, serta hanya bisa diakses oleh akademika sekolah yang bersangkutan”.
            Jadi perpustakaan sekolah adalah salah satu bagian kelengkapan yang harus ada di setiap lembaga pendidikan formal di berbagai tingkatan. Karena perpustakaan dianggap sebagai guru kedua, setelah guru yang ada di sekolah tersebut. Hal ini disebabkan perpustakaan adalah sebuah tempat di mana di dalamnya terdapat banyak ilmu  yang sangat bermanfaat bagi siswa untuk diketahui.
Beberapa upaya yang harus di lakukan perpustakaan untuk menerapkan siswa cinta di lingkungan perpustakaan:
Mengadakan kegiatan lomba menulis sesuai dengan memperingati hari besar. Bentuk lomba yang di adakan di sekolah harus sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada, misalnya mengadakan lomba membuat artikel. Hal ini akan mendorong  siswa untuk mencari dan mempelajari sesuatu dengan membaca. Maka siswa akan berbondong-bondong pergi ke perpustakaan karena sebagai salah satu sarana pintar untuk siswa di lingkungan sekolah.
Untuk mendukung kegiatan ini maka perpustakan harus bisa menyediakan kebutuhan siswa. Informasi tidak hanya buku cetak namun juga berupa media elektronik dan yang lain yang dapat mengakses informasi yang terkini dan lengkap. Sehingga siswa dapat memenuhi kebutuhannya akan informasi yang diperlukan dengan berkunjung ke perpustakaan.

Mengadakan Pameran Di Perpustakaan
Adanaya program pameran di perpustakaan tidak hanya memamerkan buku saja, tapi dari karya siswa atau guru bisa juga dipamerkan di halaman perpustakaan. Jadi member informasi atau pengetahuan baru tidak harus lewat buku dan bacaan bisa jiga lewat karya-karya orang lain. Untuk mengadakannya bisa disesuaikan dengan hari besar nasional, misalnya Hari Kemerdekaan, Hari Pendidikan. Jadi pameran yang di paerkan bertemakan dengan hari peringatan. Menurut (Darmono, 2007: 211) mengtakan penyajian pameran sebaiknya mencakup semua jasa informasi namun dalam bahasa sederhana. Tulisan harus besar dan jelas serta ringkas. Pameran haruslah bersifat firsual dapat (dapat dilihat oleh mata) karena itu dalam pameran diikutsertakan foto untuk member jasa perpustakaan. Foto yang diikitsertakan hendaknya berukuran besar karena dampak dalam pameran sangat positif.

Mengadakan program mading untuk perpustakaan
Mading bisa memberi informasi terbaru mengenai perpustakaan maupun informasi yang ada di lingkungan sekolah. Menurut Santoso(dalam Widodo, 1992:1) Dalam hal ini majalah dinding bukanlah hal yang baru dan asing dalam dunia persekolahan. Kehadirannya di sekolah bukan saja disikapi sebagai pelengkap fasilitas semata, tetapi juga telah menjadi kebutuhan dalam merekayasa siswa, baik yang berkaitan dengan program kurikulum kurikuler maupun kokurikuler.
Dengan begitu mading dibuat semenarik mungkin pasti siswa akan mau untuk berkunjung dan membaca mading. Mading  bisa menyajikan bentuk kreatifitas dari siswa supaya senang  membaca karya temannya sendiri. Mading juga memberi saran dan kritik untuk pembaca. Dengan begitu siswa mampu menggali kemampuan dengan menulis.
Menulis bertujuan menyampaikan maksud, pesan, ataupun gagasan kepada orang lain dengan menggunakan tulisan. Menulis sangat memerlukan latihan, pengalaman, waktu, kesempatan, serta pengajaran langsung menjadi seorang penulis. Oleh sebab itu sekolah perlu mengadakan diklat tentang teknik menulis bagi siswa untuk meiningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam  membuat karya tulis. Untuk lebih menggairahkan siswa dalam membuat tulisan pada majalah dinding, ada baiknya bila di sekolah diselenggarakan lomba mengarang atau menulis dengan tema-tema yang aktual dan bersifat edukatif. Naskah-naskah dari siswa yang masuk nominasi dan memenuhi persyaratan penulisan dapat dimuat di majalah dinding secara berkala. Pemuatan naskah tersebut disamping untuk mendapatkan naskah yang berkualitas juga dapat memberikan kebanggaan bagi siswa dan  menjadi alat motivasi untuk lebih produktif dalam menghasilkan karya tulis pada masa  mendatang serta dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dari siswa lain  untuk membacanya (Hari Santoso,  2011).

Guru menugaskan siswa pergi ke perpustakaan untuk untuk mencari buku pelajaran
Memberikan tugas adalah salah satu cara supaya siswa mau mengunjungi perpustakaan untuk mencari buku yang akan digunakan mengerjakan tugasnya. Dengan demikian yang dilakukan siswa di perpustakaan tidak hanya mencari bahan untuk mengerjakan tugas, tapi bisa juga memperoleh informasi dan membaca buku bacaan lainnya. Novita (2007) mengatakan Ada beberapa prinsip membaca yang perlu diperhatikan oleh guru, pustakawan dalam membina dan mengembangkan minat baca para siswa adalah 
Membaca merupakan proses berpikir yang kompleks Hal ini terdiri dari sejumlah kegiatan seperti memahami kata-kata atau kalimat yang ditulis oleh pengarang, menginterpretasikan konsep-konsep pengarang serta menyimpulkannya.
Kemampuan membaca tiap orang berbeda-beda. Setiap orang memiliki kemampuan membaca sendiri-sendiri tergantung pada beberapa factor misalnya tingkatan  kelas, kecerdasan, keadaan emosi, hubungan social seseorang, latar belakang pengalaman yang dimiliki, sikap, aspirasi, kebutuhan-kebutuhan hidup seseorang, dan sebagainya. Pembinaan kemampuan membaca atas dasar evaluasi Pembinaan tersebut harus dimulai atas dasar hasil evaluasi terhadap kemempuan membaca orang yang bersangkutan. Membaca harus menjadi pengalaman yang memuaskan. Seseorang akan senang jika telah berhasil mempelajari sesuatu dengan baik dan merasa puas atas hasil bacaannya. Kemahiran membaca perlu keahlianyang kontinyu, Agar memiliki kemahiran membaca, ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan dalam membaca perlu diperhatikan sedini mungkin sejak seseorang pertamakali masuk sekolah.
            Sebagaimana yang telah di alami banyak orang tujuan membaca sangat bermanfaat bagi kita, membantu apa yang di butuhkan dan mengetahuai berbagai banyak hal baru melalui membaca. Membaca sebaiknya di terapkan sejak kecil supaya anak terbiasa dengan hal yang baru. Melilihat banyak manfaat tujuan membaca menurut (Darmono, 2007: 215) menyatakan tujuan umum orang membaca adalah untuk mendapatkan informasi baru. Dalam kenyataan terdapat tujuan yang lebih khusus dari kegiatan membaca, yaitu: (1) Membaca untuk tujuan kesenangan. Temasuk dalam kategori ini adalah membaca novel, surat kabar, majalah, dan komik. Menurut Davit Eskey tujuan membaca semacam ini adalah reading for pleasure. (2) Membaca untuk mnteningkatkan pengetahuan seperti pada membaca buku-buku pengetahuan. Kegiatan membaca untuk meningkatkan pengetahuan disebut juga dengan reading for itelectual profit. (3) Membaca untuk melakukan suatu pekerjaan, misalnya para mekanik perlu membaca buku petunjuk, ibu-ibu membaca booklet tentang resep makanan, membaca prosedur kerja dan pekerjaan tertentu. Kegiatan membaca semacam ini disebut dengan reading for work.

Pelayanan perpustakaan yang maksimal
            Untuk menujang agar siswa menjadi cinta kepada perpustakaan maka pelayanan yang ada dalam perpustakaan harus maksimal. Bahan-bahan bacaan yang ada harus memenuhi kebutuhan yang ada. Baik dari buku-buku yang lama dan juga buku-buku yang baru juga ada. Bahan bacaan sangat mendukung siswa mau membaca. Karena siswa mau membaca jika bukunya  memenuhi sesuai yang di butuhkan. Selaim itu petugasnya harus ramah kepada siswa saat berkunjung maupun saat siswa mengalami kesu;itan mencari buku. Sebagai pustawakan harus bekerja secara professional. Jadi tudak boleh pilih kasih tehadp pengunjung.
Tingkat kepuasan yang diberikan dapat dilihat dari beberapa factor atau tolak ukur seperti kejelasan dan kecepatan, sederhana / tidak berbelit, memberikan pelayanan yang akurat, ditambah dengan sikap yang ramah, dan tentunya juga tidak memerlukan biaya yang besar. Secara umun layanan yang beroriontasi untuk kepuasan pelanggan dengan beberapa prinsip: (a) kesederhanaan, artinya bahwa layanan yang diberikan sederhana dan tidak berbelit-belit dengan alur yang jelas dan baku, (b) kejelasan dan kepastian tentang prosedur layanan yang jelas, adanya pejabat/petugas yang jelas dan bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan,adanya hak dan kewajiban yang jelas dari pemberi layanan dan penerima layanan, adanya pejabat yang menerima keluhan dan pengaduan dari masyarakat dari kegiatan pelayanan yang diberikan, adanya pejabat yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan setiap pengaduan dari masyarakat, (c) keamanan merupakan jaminan kepada pemberi layanan dan penerima layanan (Darmono, 2013: 69-70).
                                               
 Hendriyana (2011) menyatakan Factor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pengguna adalah (1) Kemampuan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan pengguna, (2) struktur lembaga organisasi, penempatan staff serta petugas ataupun pustakawan itu sendiri agar dapat memenuhi pelayanan pengguna secara maksimal sesuai bidangnya, (3) Kualitas dari pustakawan dalam memenuhi pelayanan pengguna serta kinerjanya dalam bidang kepustakaan, (4) kebutuhan-kebutuhan yang terpenuhi sehingga pengguna akan merasa puas, walaupun diakui tak ada satu perpustakaan di dunia ini yang bisa memenuhi kebutuhan pengguna, (5) Kepribadiaan dalam pelayanan, yang memang utama dalam pemberian layanan sehingga ini merupakan factor utama. Misalnya dari senyum, sapa, dan salam.


Suasana yang nyaman saat di perpustakaan
            Lokasi perpustkaan harus strategis. Posisi harus terhindar dari kebisingan, karena kebisingan dari berbagai mesin atau yang lain akan mengganggu suasana pembaca. Lokasinya juga diusahakan pada pusat lingkungan sekolah, sehingga dapat dijangkau oleh semua siswa dengan mudah. Pengunjungan siswa ke perpustaan juga bergantung pada kebersihan tempat itu sendiri dan ketenangan ruang di perpustakaan, karena jika kebersihannya tidak terawat dan kebisingan masih terjadi maka siswa akan malas untuk pergi ke  perpustakaam.
Kosasih 2009 mengemukakan Penataan ruangan perpustakaan sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan semua kegiatan di perpustakaan baik aspek layanan maupun untuk kegiatan penyiapan semua sarana dan prasarana pendukung layanan perpustakaan. Perpustakaan pada umumnya minimal memiliki 4 (empat) macam ruangan. (1) Ruang koleksi buku (rak-rak buku), (2) Ruang baca, (3) Ruang pengolahan bahan pustaka dan ruang Staf , (4) Ruang sirkulasi.
Secara umum perpustakaan di Indonesian tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Maka diharapkan banyak yang memenfaatkan fasilitas yang ada, karena setiap perpustakaan memiliki harapan dan tujuan. Menurut Basuki (2010: 2.16-1.17) perpuatakaan sekolah merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Dengan kedudukan tersebut maka perpustakaan sekolah memiliki tujuan: (a) Membantu dan memperkuat tujuan pendidikan sebagaimana digariskan dalam misi dan kurikulum sekolah, (b) Mengembangkan dan memperkuat kebiasaan dan kegemaran membaca dan belajar pada murid serta penggunaan perpustakaan sepanjang hayat, (c) Memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam menciptakaan dan menggunakan informasi untuk pengetahuan, pemahaman, imajinasi, dan keceriaan, (d) Membantu murid dalam pembelajaran dan keterampilan menilai serta menggunakan informasi, dengan tidak memandang bentuk, (e) Menyediakan akses ke sumber informasi lokal, regional, nasional dan global serta kesempatan yang mengekspos murid pada gagasan, pengalaman, dan oponi yang beranekaragam.






Simpulan
Menumbuhkan rasa cinta di perpustakaan diperlukan banyak straegi atau kegiatan, supaya tumbuh rasa cinta perpustakaan. Aspek-aspek yang terkait dalam menumbuhkan rasa cinta di perpustakaan dengan diadakannya lomba untuk siswa di perpustakaan menjadikan siswa datang ke perpustakaan untuk mencari bahan yang akan di gunakan, mading perpustakaan menciptakan kreatifitas warga sekokah untuk bisa di tempelkan di mading perpustakaan, memberi tugas untuk mengerjakan di perpustakaan salah satu bentuk kerjasama antara guru dan pustakawan supaya siswa mau berkunjung ke perpustakaan, pameran di perpustakaan memamerkan berbagai macam karya yang bagus tidak hanya buku saja yang di pemerlan disesuai dengan tema hari besar nasional, pelayanan perpustakaan yang maksimal jadi pustakawan mampu melayani pengunjung dan membantu saat pengunjung kesulitan, dan juga suasana yang nyaman saat berada di perpustakaan. Kembali lagi ke peran dan tujuan perpustakaan. Jadi harus biasa memanfaatkan fasilitas yang sudah ada di perpustakaan.












DAFTAR RUJUKAN

Basuki, Sulistyo. 2010. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Cella. 2012. Pengertian Perpustakaan Sekolah dan Manfaatnya. (Online). (http://cella.staf.
narotama.ac.id/2012/02/10/pengertian-perpustakaan-sekolah-dan-manfaatnya/), diakses pada 28 Maret pukul 18.00 WIB 2013.
Dana. 2012.  Perpustakaan Sekolah. (Online). (http://library.site88.net/), diakses pada 27 Maret pukul 15.00 WIB 2013.
Darmono. 2013. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Malang: Bayu Media.
Darmono, 2007. Perpustakaan Sekolah, Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja. Jakarta: Grasindo. 
E, Novita Dwi. 2007. Pembinaan Minat Baca Bagi Siswa Sekolah Dasar. (Online). (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/pdfdwinovi/PembinaanMinaBacaBagSiswaSekolahDasar.pdf), diakses pada 26 Maret pukul 17.00 WIB 2013.
Hendriyana, Ricki.  2011. Pelayanan Maksimal Bukti Keberhasilan Perpustakaan. (Online). (http://ricki-h.blogspot.com/2011/07/pelayanan-maksimal-bukti-keberhasilan.html), diakses 28 Maret pukul 18.00 WIB 2013.
Kokasih, Aa. 2009. Tata Ruang, Perabot dan Perlengkapan  Perpustakaan Sekolah. (Online), (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/karsasih), diakses 27 Maret pukul 15.00 WIB 2013.
Muktamarudin. 2012. Perpustakaan, Sarana Pintar Buat Pintar. (Online). (http://inisiatif-muktamar.blogspot.com/2012/05/perpustakaan-sarana-pintar-buat-pintar.html), diakses 27 Maret pukul 16.00 WIB 2013.
Santoso, Hari. 2011. Majalah Dinding Sebagai Media Untuk Meningkatkan Kemempuan Menulis  Dan Budaya Baca Siswa. (Online). (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/pdfhasan/MAJALAH%20DINDING%), diakses pada 27 Maret pukul 16.00 WIB 2013.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini